top of page

SEBAGIAN ADAB KETIKA BERTAMU KERUMAH RASULULLAH SAW 2


Hisar Global Jawa Tengah ( Madinah)

Seperti nasehat berbentuk syair yang tertera dalam

kutipan buku “Arzın Hazineleri” (harta karun bumi) yang ditulis oleh Fatih Karaboğa pada kata pengantarnya “Sakın terk-i edebden kuy-ı mahbub-ı hüdadır bu. Nezargah-ı ilahidir, makam-ı

mustafa’dır bu” yang jika diterjemahkan kurang lebih memiliki makna “Waspadalah, berhati-

hatilah engkau terhadap adab yang engkau lalaikan. Karena disini merupakan tempat beradanya

Habibullah, Rasulullah SAW. Dan disini pula merupakan Rumah Allah dan Rasul-Nya”.

Pada sya’ir tersebut memiliki sepenggal kisah yang unik dari seorang penya’ir dengan

seorang Paşa (pasya). Pada suatu ketika di zaman ke Khalifahan Utsmaniyah terdapat seorang penya’ir handal nan terkenal. Beliau tak hanya memiliki kelihaiannya dalam mengolah kata akan tetapi juga kelihaiannya dalam memperhatikan adab. Beliau berasal dari kota Urfa Turki yang akan melaksanakan ibadah haji bersama seorang Pasya. Tidak seperti zaman sekarang ini yang begitu sangat mudah melaksanakan rukun islam yang ke-5. Pada zaman tersebut mereka melakukan perjalanan dari Turki hingga Haramain-I Syarifaini kurang lebih memakan waktu 7 hari 7 malam.

Pada saat-saat akan mendekati kota Madinah Munawwaroh mereka sedikit melakukan

peristirahatan dan juga mempersiapkan diri agar lebih siap dari segi jasmani maupun rohani ketika memasuki kota suci tersebut. Dengan harapan dapat membawa bekal ma’nawiyah yang lebih baik lagi. Setelah semuanya dipersiapkan, penya’ir tersebut dikejutkan karena mendapati Pasya yang sedang beristirahat dalam keaadaan kaki diselonjorkan mengarah ke Madinatul Munawwarah yang mana di Masjid Nabawi tersebut terdapat Makam Nabiyullah SAW. Kemudian seketika itu penyair tersebut mengingatkan kepada pasya akan adab yang kurang baik tersebut dengan menggunakan sebuah sya’ir yang kami sebutkan diatas, lantas pasya tersebut pun mengerti akan kesalahan yang telah ia perbuat kemudian memohon maaf dan juga meminta agar merahasiakan hal tersebut kepada siapapun. Sesampainya mereka pada waktu Subuh diMasjid Nabawi, terdengar lantunan sya’ir yang dibacakan oleh muadzin yang mana lantunan tersebut berbunyi

“Sakın terk-i edebden kuy-ı mahbub-ı hüdadır bu. Nezargah-ı ilahidir, makam-ı mustafa’dır bu”

sama persis seperti sya’ir yang dibacakan oleh penyair tersebut kepada pasya sebagai bentuk

teguran atas kurangnya memperhatikan adab dengan menjulurkan kaki yang menghadap

Madinatul Munawwarah yang tepat berada dibawah kubah hijau tersebut bersemayam

Nabiyullah Agung Muhammad SAW. Lantas bagaimana bisa syair itu sampai ke telinga muadzin tersebut bahkan juga dilantunkan disaat datangnya penya’ir itu bersama seorang pasya yang sedang memasuki wilayah masjid nabawi?......

Kita lanjutkan kisah tersebut dipart selanjutnya insya Allah....


Penulis : Mohammad Hisyam (Koordinator HGI Jawa Tengah)

No. Whatsapp : 0813-2581-5982

22 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

コメント


bottom of page